<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="4256">
 <titleInfo>
  <title>Langkah-Langkah Peradaban</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Sutrisno, Mudji</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
   <publisher>Kanisius</publisher>
   <dateIssued>1994</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>103hlm: 12,5x20cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Esai-esai di dalam buku ini dirajut melalui beberapa sub-pembahasan kontekstual yang sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari dan dinamika politik masa itu: (1) Refleksi Makna Tanah Air &amp; Bahasa: Penulis menggali kedalaman istilah 'Air dan Tanah' serta mengkritik polarisasi antara anjuran positif vs larangan berbahasa, yang bermuara pada pertanyaan reflektif tentang hakikat 'Bahasa Kita'. (2) Demokrasi dan Kritik Sosial: Pembaca diajak belajar tentang demokrasi dengan melihat perbandingan posisi kritik di negara-negara Eropa seperti Inggris dan Swedia, hingga menceritakan catatan ziarah damai di Bruxelles-Louvain. (3) Cakrawala Keindonesiaan &amp; Tokoh: Membedah fenomena tokoh kritis seperti Mochtar Lubis, serta melihat ruang kebudayaan populer melalui Festival Seni Yogya. (4) Kritik Hegemoni &amp; Gejala Sosial: Menyoroti bahaya hegemoni kekuasaan, fenomena masyarakat yang gemar mencari 'kambing hitam', dan bagaimana kebaikan serta kejahatan diadopsi dalam layar perak/film. (5) Kearifan Lokal Kosmopolitan: Melalui esai 'Minum Kopi' dan 'Lesehan', Romo Mudji melihat bagaimana ruang publik sederhana menjadi ruang dialog peradaban yang setara dan humanis bagi wong cilik. Buku ini menjadi panduan reflektif yang mengingatkan bahwa melangkah menuju peradaban yang maju tidak berarti harus kehilangan jiwa kemanusiaan, nurani, dan akar kebudayaan lokal.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>sosiologi politik</topic>
 </subject>
 <classification>306.2</classification>
 <identifier type="isbn">9794973378</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>306.2 Sut l</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">7480</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>306.2 Sut l</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Langkah-Langkah_Peradaban.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>4256</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2019-11-07 18:21:44</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-10-19 12:06:14</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>