Record Detail
Advanced SearchText
Keberanian Perempuan dalam Ritus Ma'bulle Tomate di Upacara Rambu Solo Toraja: Perspektif Feminisme Eksistensialis Simone De Beauvior
Penelitian ini berangkat dari adanya ketegangan relasi gender dalam tatanan masyarakat patriarkal Toraja, di mana peran perempuan dalam upacara adat seperti Rambu Solo (ritual kematian) seringkali dipandang subordinat dan marginal. Namun, anomali kultural yang kontradiktif terjadi pada ritus perempuan Ma’bulle Tomate, sebuah tradisi yang lahir dari memori kolektif masa kelam kematian beruntun (Ma’ropu Tau). Dalam ritus tersebut, perempuan justru tampil sebagai subjek aktif, vokal, dan memegang otoritas simbolik-spiritual sebagai 'obat' untuk memutus rantai kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dalam ritus perempuan Ma’bulle Tomate, menganalisis bagaimana pengalaman eksistensial perempuan tercermin dalam praktik tersebut, dan sejauh mana perempuan mampu menegosiasikan dan melampaui batas-batas struktur adat patriarkal. Metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif interpretatif ini adalah hermeneutika filosofis dan analisis feminis eksistensialis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka etnografis, dokumentasi lisan, serta wawancara naratif dengan informan lokal. pisau analisis digunakan bertumpu pada konsep-konsep kunci dari Simone de Beauvoir, khususnya dikotomi antara imanensi dan transendensi, perempuan sebagai The Other, dan kebebasan eksistensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan fisik dan spiritual perempuan dalam ritus Ma’bulle Tomate merupakan bentuk nyata dari penolakan terhadap status the other. Melalui keberanian di tengah situasi krisis, perempuan Toraja berhasil keluar dari ruang imanen, tindakan ini sebuah proklamasi eksistensial di mana tubuh dan suara perempuan memulihkan stabilitas peradaban Toraja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ritus perempuan Ma’bulle Tomate dalam upacara Rambu Solo merupakan ruang eksistensial yang membuktikan bahwa perempuan Toraja bukanlah pewaris budaya yang pasif, melainkan subjek otonom yang bebas dan berpikir. Secara implikatif, studi ini memperkaya diskursus “feminisme kontekstual” di Indonesia dengan memperlihatkan bahwa tradisi lokal tidak selamanya menjadi penjara identitas bagi perempuan, melainkan dapat diinterpretasikan ulang secara kritis sebagai instrumen emansipasi dan pembebasan eksistensial.
Availability
| 24.02001 | 305.42 Men k | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
305.42 Men k
|
| Publisher | STFT Widya Sasana : Malang., 2026 |
| Collation |
xii + 118hlm; 21,5x28cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Classification |
305.42
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






