<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="22900">
 <titleInfo>
  <title>Kesendirian di Keramaian Digital (Analisis Konsep New Solitude Sherry Turkle dan Praktik digital Detox dalam Kehidupan Generasi Z)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>2. Dr. Sermada Kelen Donatus, M.A.</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>3. Robertus Wijanarko, Ph.D</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Bandung, Sonideritus</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>1. Dr. Pius Pandor, Lic. Phil</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
   <publisher>STFT Widya Sasana</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>x + 206hlm; 21,5x28cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Fenomena kesendirian di tengah keramaian digital telah menjadi realitas paradoksal yang menonjol dalam kehidupan kontemporer, khususnya di kalangan Generasi Z. Kelompok demografis yang lahir dan berkembang bersama internet ini fasih dalam konektivitas daring, namun sering kali justru mengalami kekosongan relasional dan isolasi emosional. Penulisan tesis ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut dengan menggunakan kerangka konseptual new solitude yang digagas oleh Sherry Turkle, serta mengkaji praktik digital detox sebagai respons kritis terhadap kondisi tersebut. Metode penulisan yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif terhadap karya-karya Turkle dan berbagai sumber relevan lainnya. Menurut Turkle, new solitude merujuk pada suatu kondisi di mana individu merasa nyaman menyendiri, tetapi tidak benar-benar sendiri karena selalu terhubung dengan perangkat digital. Ironisnya, koneksi ini bersifat ilusif karena menggantikan interaksi manusia yang autentik dengan komunikasi yang terkontrol dan dangkal. Akibatnya, kapasitas untuk introspeksi diri dan membangun empati melalui percakapan tatap muka menjadi tergerus. Generasi Z, sebagai generasi pertama pertama yang melek digital, menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak negatif ini. Mereka terbiasa berbagi momen pribadi di media sosial untuk mendapatkan validasi eksternal, namun di saat yang sama, mereka merasa kesepian karena interaksi yang terjadi sering kali tidak memiliki kedalaman emosional. Keramaian digital justru menciptakan ruang gema yang memperkuat perasaan terisolasi, alih-alih membangun komunitas yang suportif. Menghadapi dilema ini, praktik digital detox atau detoksifikasi digital muncul sebagai sebuah gerakan perlawanan dan upaya rekonsiliasi. Praktik ini melibatkan pengurangan atau penghentian total penggunaan perangkat digital untuk jangka waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk memulihkan keseimbangan hidup, mengembalikan fokus pada interaksi dunia nyata, dan memberikan ruang bagi refleksi diri yang otentik. Bagi Generasi Z, digital detox bukan sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan untuk melepaskan diri dari tekanan konstan untuk tampil daring dan untuk menghidupkan kembali kualitas kehadiran penuh dalam kehidupan sehari-hari. Konsep new solitude dari Turkle menyediakan lensa yang tajam untuk memahami krisis koneksi yang dialami Generasi Z. Praktik digital detox kemudian dapat dilihat sebagai sebuah strategi penting, meskipun bersifat individual, untuk menegosiasikan kembali relasi dengan teknologi. Penulisan tesis ini menguraikan poin penting bahwa mengatasi kesendirian di era digital membutuhkan lebih dari sekadar mengurangi waktu layar, melainkan menuntut sebuah kesadaran kritis untuk membangun kembali koneksi yang bermakna, baik dengan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain di luar jangkauan algoritma dan notifikasi. Upaya ini merupakan langkah esensial untuk merebut kembali esensi kemanusiaan di tengah gemuruh dunia digital.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Media digital</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>TESIS 2026</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Hubungan individu dengan masyarakat</topic>
 </subject>
 <classification>302.5</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN STFT WIDYA SASANA Jln. Terusan Rajabasa 2 Malang</physicalLocation>
  <shelfLocator>302.5 Ban k</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">24.01019</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan STFT</sublocation>
    <shelfLocator>302.5 Ban k</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>Cover_TESIS_2023.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>22900</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-09-05 11:14:50</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-09-09 12:09:07</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>