Record Detail
Advanced SearchText
Kekerasan Rasial sebagai Hiperrealitas dalam Filsafat Sosial Jean Baudrillard dan Implikasinya dalam Praksis Pastoral
Penelitian ini membahas fenomena kekerasan rasial terhadap masyarakat Papua yang tidak hanya terjadi sebagai peristiwa empiris, tetapi juga dikonstruksi dan direproduksi melalui representasi media. Menggunakan kerangka filsafat sosial Jean Baudrillard, khususnya konsep simulakra, simulasi, dan hiperrealitas, penelitian ini bertujuan untuk memaparkan secara mendalam fenomena kekerasan rasial terhadap masyarakat Papua, menjelaskan konsep simulakra, simulasi, dan hiperrealitas menurut Jean Baudrillard serta menerapkannya untuk menganalisis bagaimana kekerasan rasial terhadap masyarakat Papua dikonstruksi melalui media sebagai realitas simbolik yang menggantikan realitas faktual, serta merumuskan peran Gereja sebagai kontra-narasi etis terhadap hiperrealitas kekerasan rasial dengan mengembangkan praksis pastoral yang transformatif, kritis, dan humanis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data terdiri atas data primer berupa pemberitaan media massa tentang kasus-kasus kekerasan rasial terhadap masyarakat Papua dan data sekunder berupa buku, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dokumen resmi, serta karya-karya Jean Baudrillard. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap yang saling terkait: analisis deskriptif, analisis interpretatif, dan analisis reflektif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan rasial terhadap masyarakat Papua merupakan fenomena multidimensi yang mencakup kekerasan verbal, kekerasan fisik, diskriminasi sosial, kekerasan struktural, serta kekerasan melalui media. Dalam perspektif Jean Baudrillard, kekerasan rasial dipahami sebagai simulakra, yaitu konstruksi simbolik yang hidup melalui tanda, citra, dan narasi yang memperoleh otonomi dari realitas empiris. Akibatnya, kekerasan rasial hidup dalam hiperrealitas, yaitu kondisi ketika representasi dan simulasi memperoleh otonomi sehingga batas antara realitas faktual dan konstruksi simbolik menjadi kabur, dan publik lebih berinteraksi dengan realitas simbolik daripada dengan pengalaman konkret. Penelitian ini juga menemukan bahwa Gereja dipanggil untuk mengembangkan praksis pastoral sebagai kontra-narasi etis terhadap hiperrealitas kekerasan rasial. Fondasi teologis kontra-narasi ini terletak pada memoria passionis, narasi Injil yang berpihak pada kaum tertindas, kristologi salib yang membongkar struktur dominasi, serta doktrin imago Dei yang menegaskan martabat setiap manusia sebagai citra Allah. Implikasi pastoral yang dirumuskan mencakup pembaruan epistemologis dalam praksis pastoral, pengembangan etika komunikasi yang berpusat pada kebenaran dan kasih, rekonstruksi pemahaman tentang komunitas sebagai ruang perjumpaan nyata, serta penguatan dimensi publik Gereja sebagai suara profetis.
Availability
| 24.01014 | 261.8 Kel k | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
261.8 Kel k
|
| Publisher | STFT Widya Sasana : Malang., 2026 |
| Collation |
x + 193hlm; 21,5x28cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
-
|
| Classification |
261.8
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






