Image of Dari Babel ke Pentakosta: Transformasi Tipologis Bahasa dan Implikasinya Bagi Gereja Katolik Indonesia

Tesis

Dari Babel ke Pentakosta: Transformasi Tipologis Bahasa dan Implikasinya Bagi Gereja Katolik Indonesia



Penelitian ini bertolak dari persoalan teologis-pastoral mengenai ambivalensi bahasa dalam kehidupan manusia dan Gereja. Di satu sisi, bahasa merupakan anugerah yang memungkinkan persekutuan dengan Allah dan sesama; di sisi lain, ia dapat menjadi sumber dominasi, perpecahan, dan distorsi ketika disalahgunakan. Narasi Menara Babel (Kej. 11:1-9) dan peristiwa Pentakosta (Kis. 2:1-13) dalam Kitab Suci merefleksikan secara dramatis ambivalensi ini. Penelitian ini bertujuan: (1) menafsirkan kisah Babel dan Pentakosta secara biblis-teologis sebagai refleksi tentang bahasa sebagai anugerah sekaligus tantangan; (2) menganalisis relasi teologis antara kedua peristiwa tersebut dalam kerangka sejarah keselamatan; dan (3) merefleksikan implikasi teologis-pastoral bagi Gereja Katolik Indonesia dalam merespons dinamika kebahasaan di tengah masyarakat multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan mengintegrasikan tiga pendekatan: biblis-hermeneutis, teologis-sistematis, dan kontekstual. Analisis dilakukan melalui pembacaan kanonik-tipologis atas Kejadian 11:1-9 dan Kisah Para Rasul 2:1-13, serta dialog dengan tradisi teologi Katolik, teori hermeneutika kontemporer, dan studi kontekstual tentang dinamika kebahasaan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, bahasa dalam Kitab Suci merupakan anugerah ilahi yang ambivalen. Dalam Babel, kesatuan bahasa disalahgunakan untuk proyek 'membuat nama' yang berpusat pada manusia, berujung pada fragmentasi. Dalam Pentakosta, keragaman bahasa dipulihkan sebagai medium pewartaan karya Allah yang mempersatukan segala bangsa. Ambivalensi ini terletak pada orientasi teologis penggunanya, apakah diarahkan pada kemuliaan diri atau pada pewartaan Allah. Kedua, relasi Babel-Pentakosta merupakan transformasi tipologis dalam sejarah keselamatan yang berlangsung dalam tiga dimensi: transformasi sumber otoritas (dari konsensus manusia ke karunia Roh), transformasi orientasi tujuan (dari kemuliaan diri ke pewartaan Allah), dan transformasi relasi terhadap keragaman (dari homogenisasi ke integrasi). Ketiga, pembacaan ini berimplikasi pada tiga hal bagi Gereja Katolik Indonesia: kewaspadaan terhadap 'bahasa Babel' yang eksklusif dan mendominasi; pengembangan 'bahasa Pentakosta' yang inklusif, dialogal, dan inkulturatif dalam liturgi, katekese, dan dialog sosial; serta pemahaman bahasa gerejawi sebagai medium sakramental yang menghadirkan kasih Allah dan membangun persekutuan di tengah masyarakat majemuk. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa dalam kehidupan Gereja selalu berada dalam tugas untuk terus dimurnikan agar sungguh menjadi sarana komunio, bukan alat pemisah. Di antara ingatan akan Babel yang mengingatkan pada kerapuhan bahasa, dan pengalaman Pentakosta yang menegaskan pemulihannya oleh Roh Kudus, Gereja berjalan sebagai komunitas peziarah yang tidak pernah selesai belajar berbicara dalam bahasa yang menghadirkan Kabar Baik.


Availability

24.01025261.8 Dag dPerpustakaan STFTAvailable

Detail Information

Series Title
-
Call Number
261.8 Dag d
Publisher STFT Widya Sasana : Malang.,
Collation
xi + 145hlm; 21,5x28cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
261.8
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility

Other version/related

No other version available




Information


RECORD DETAIL


Back To PreviousXML DetailCite this