Record Detail
Advanced SearchText
Kesepakatan Nikah Simulatif: Relevansi dan Implikasi pada Anulasi Perkawinan (Referensi bagi Fungsionaris Tribunal)
Dari ketentuan kan. 1101, §1, simulasi dapat didefinisikan sebagai ketidaksesuaian (divergensi) atau keberseberangan (diskordansi) antara kehendak batin seseorang dengan manifestasi eksternalnya. Simulasi bisa terjadi pada satu pihak saja, atau sama-sama dilakukan oleh kedua pihak dengan motif dan tujuan berbeda. Simulasi berarti bahwa pada saat perayaan nikah pernyataan verbal salah satu atau kedua pihak (ya, aku mau mengambil engkau sebagai suami/istriku), yang memberi kesan lahiriah kepada pasangan tentang adanya kehendak untuk menikah, tidak sesuai atau bertolak belakang dengan kehendak dalam batin (tidak, aku tidak mau mengambil engkau sebagai suami/istriku). Kebohongan dan kepura-puraan dalam janji nikah memiliki konsekuensi yang sangat berat dan serius, baik secara yuridis maupun moral dan psikologis, baik terhadap kebaikan individu maupun masyarakat. Buku ini menyajikan doktrin kanonik mengenai kesepakatan nikah simulatif, yang berguna sebagai referensi bagi para pastor paroki atau para petugas pastoral perkawinan dan keluarga, serta fungsionaris tribunal gerejawi dalam menangani perkara perkawinan dengan indikasi adanya simulasi.
Availability
| 21263 | 262.94 Rah k | Perpustakaan STFT | Available |
| 21264 | 262.94 Rah k | Perpustakaan STFT | Available |
Detail Information
| Series Title |
-
|
|---|---|
| Call Number |
262.94 Rah k
|
| Publisher | Dioma : Malang., 2026 |
| Collation |
xiii + 149hlm; 15,5x23cm
|
| Language |
Indonesia
|
| ISBN/ISSN |
978-623-8062-15-7
|
| Classification |
262.94
|
| Content Type |
-
|
| Media Type |
-
|
|---|---|
| Carrier Type |
-
|
| Edition |
-
|
| Subject(s) | |
| Specific Detail Info |
-
|
| Statement of Responsibility |
-
|
Other version/related
No other version available






