Image of Fenomena Modifikasi Tubuh dari Perspektif Wacana Michel Foucault

Text

Fenomena Modifikasi Tubuh dari Perspektif Wacana Michel Foucault



Fenomena modifikasi tubuh dalam masyarakat kontemporer telah berkembang menjadi gejala sosial yang semakin kuat dan meluas dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai bentuk modifikasi tubuh tampak secara nyata, seperti operasi plastik, yang meliputi rhinoplasty (perubahan bentuk hidung), facelift (pengencangan kulit wajah dan leher untuk mengurangi keriput), serta pembedahan kontur wajah. Selain itu, praktik modifikasi tubuh juga terwujud dalam bentuk tato dan tindik yang semakin diterima dalam ruang publik. Tindakan-tindakan tersebut kerap didasarkan pada pemahaman tentang kebebasan individual, yakni keyakinan bahwa setiap orang berhak melakukan apa pun terhadap dirinya sebagai manifestasi otonomi pribadi, termasuk dalam mengatur dan membentuk tubuhnya. Di samping itu, modifikasi tubuh juga dipandang sebagai sarana untuk menemukan identitas diri, membangun jati diri, serta memperoleh pengakuan sosial. Dalam kerangka ini, identitas personal sering kali dihubungkan dengan kondisi atau bentuk tubuh tertentu. Kekurangan fisik dipersepsikan sebagai hambatan bagi rasa percaya diri dan bahkan sebagai penyebab hilangnya validasi sosial. Oleh karena itu, modifikasi tubuh kerap dipilih sebagai solusi yang dianggap niscaya. Perkembangan wacana mengenai tubuh ideal, yang menawarkan beragam standar dan variasi, semakin mengukuhkan gambaran tubuh tertentu sebagai norma yang diinginkan dan diterima secara sosial. Tubuh ideal menjadi konstruksi yang diakui, dihargai, dan dijadikan cita-cita kolektif. Tesis ini berupaya membaca, menganalisis, dan membongkar realitas yang tersembunyi di balik praktik modifikasi tubuh tersebut. Kerangka konseptual yang digunakan adalah gagasan wacana menurut Michel Foucault, yang menegaskan keterkaitan erat antara wacana, pengetahuan, dan kekuasaan. Dalam perspektif ini, pilihan untuk melakukan modifikasi tubuh, yang kerap dipahami sebagai ekspresi kebebasan, sesungguhnya dapat dibaca sebagai bentuk internalisasi nilai-nilai yang telah lebih dahulu dikonstruksi oleh relasi kuasa dalam wacana sosial yang dominan. Demikian pula, citra tubuh ideal bukanlah realitas netral, melainkan produk dari mekanisme kekuasaan yang bekerja melalui produksi pengetahuan dan norma. Lebih jauh, fenomena modifikasi tubuh memiliki implikasi terhadap teologi tubuh dalam tradisi Kristiani. Di antaranya adalah memudarnya pemahaman tentang tubuh sebagai rahmat dan anugerah, terjadinya fragmentasi manusia yang berpotensi menghidupkan kembali dualisme antropologis, pengikisan makna sakramental tubuh, penolakan terhadap keterbatasan kodrati manusia, serta pengaburan makna penderitaan dalam terang penebusan. Implikasi-implikasi tersebut, baik secara filosofis maupun teologis, menunjukkan bahwa praktik modifikasi tubuh merupakan fenomena yang perlu terus-menerus dikritisi secara reflektif, dan tidak dapat begitu saja dipandang sebagai pilihan yang mutlak dan tanpa konsekuensi.


Availability

24.01024233.5 Sud fPerpustakaan STFTAvailable

Detail Information

Series Title
-
Call Number
233.5 Sud f
Publisher STFT Widya Sasana : Malang.,
Collation
xi + 186hlm; 21,5x28cm
Language
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Classification
233.5
Content Type
-
Media Type
-
Carrier Type
-
Edition
-
Subject(s)
Specific Detail Info
-
Statement of Responsibility

Other version/related

No other version available




Information


RECORD DETAIL


Back To PreviousXML DetailCite this